KA Commuter Jabodetabek (dikenal sebagai KRL Jabotabek)
adalah jalur kereta rel listrik yang dioperasikan oleh PT KAI Commuter
Jabodetabek, anak perusahaan dari PT Kereta Api Indonesia (PTKA). KRL telah
beroperasi di wilayah Jakarta sejak tahun 1976, hingga kini melayani rute
komuter di wilayah DKI Jakarta, Kota Bogor, Kabupaten Bogor, Kota Bekasi, Kota
Tangerang, dan Kota Tangerang Selatan.
Staats Spoorwegen, sebagai operator kereta api milik
Pemerintah Kolonial Belanda, memulai proyek elektrifikasi jalur kereta Tanjung
Priok - Meester Cornelis (Jatinegara) pada tahun 1923 dan diresmikan pada 1925.
Proyek elektrifikasi terus berlanjut pada lingkar Jakarta, hingga Bogor dan
Bekasi. Kereta yang digunakan ialah lokomotif listrik seri 3000 buatan pabrik
SLM–BBC (Swiss Locomotive & Machine works - Brown Baverie Cie), lokomotif
listrik seri 3100 buatan pabrik AEG (Allgemaine Electricitat Geselischaft)
Jerman, lokomotif listrik seri 3200 buatan pabrik Werkspoor Belanda serta
kereta listrik buatan pabrik Westinghouse dan kereta listrik buatan pabrik
General Electric.
Jalur kereta yang terelektrifikasi tersebut terus digunakan
dan diperluas wilayah operasionalnya sejak kemerdekaan Indonesia. Pengoperasian
jalur kereta api di Indonesia dilaksanakan oleh Djawatan Kereta Api Repoeblik
Indonesia (kini sebagai PTKA). Lokomotif yang telah digunakan sejak zaman
Belanda dan dianggap sudah tidak layak jalan digantikan oleh rangkaian kereta
listrik buatan Jepang sejak tahun 1976. Sejak tahun 2000, Pemerintah Indonesia
rutin mendapatkan hibah rangkaian kereta listrik ex-Tokyo Metro dari Jepang,
yang kemudian digunakan untuk menambah armada kereta listrik Jakarta.
Kereta listrik pertama (1925), melayani jalur Tanjung Priok
- Meester Cornelis
Pada tahun 2008 dibentuk anak perusahaan PTKA, yakni PT KAI
Commuter Jabodetabek (KCJ), yang fokus pada pengoperasian jalur kereta listrik
di wilayah Daerah Operasional (DAOP) 1 Jabotabek, yang saat itu memiliki 37
rute kereta yang melayani wilayah Jakarta Raya. PT KCJ memulai proyek
modernisasi angkutan KRL pada tahun 2011, dengan menyederhanakan rute yang ada
menjadi 5 rute utama, penghapusan KRL ekspress, penerapan gerbong khusus
wanita, dan mengubah nama KRL ekonomi-AC menjadi Kereta Commuter. Proyek ini
dilanjutkan dengan renovasi, penataan ulang, dan sterilisasi sarana dan
prasarana termasuk jalur kereta dan stasiun kereta, serta penempatan satuan
keamanan pada tiap gerbong. Saat Stasiun Tanjung Priok diresmikan kembali
setelah dilakukan renovasi total pada tahun 2009, jalur kereta listrik
bertambah menjadi 6, walaupun belum sepenuhnya beroperasi. Pada Juli 2013, PT
KCJ mulai menerapkan sistem tiket elektronik COMMET (Commuter Electronic
Ticketing) dan perubahan sistem tarif kereta.[2]
Analisis : dengan diaktifkannya seluruh jalur krl
kometerline masyarakat dimudahkan untuk berpergisan ke sekitar jabodetabek
Sumber :krl comuterline


0 komentar: