twitter


Teknologi BlackBerry Siap Perkuat Android?

Jakarta - BlackBerry telah membuka layanan BBM sehingga bisa digunakan di perangkat Android dan iOS dan berujung pada sukses besar. Bukan tidak mungkin di masa depan, akan ada produk atau teknologi lain dari BlackBerry untuk Android maupun iOS.

CEO BlackBerry John Chen mengakui bahwa perusahaannya tertarik untuk membuka beberapa teknologi khas BlackBerry agar bisa dipakai di platform lain. Jadi tidak hanya sebatas BBM.

"Hal yang hebat soal BlackBerry adalah kami sangat dikenal dalam sekuriti dan produktivitas. Saya akan senang menemukan cara agar pengalaman memakai BlackBerry seperti itu bisa juga tersedia di Android dan iOS," kata John Chen belum lama ini.

Namun belum jelas layanan seperti apa yang akan ditawarkan pihak BlackBerry selain BBM nantinya. Tampaknya saat ini, masih sebatas niat.

Di bawah kepemimpinan Chen, BlackBerry memang diprediksi akan lebih fokus dalam menciptakan software. Meskipun bisnis hardware, dalam hal ini pembuatan ponsel, kemungkinan besar tidak akan ditinggalkan.

Dikutip detikINET dari Toms Hardware, Senin (30/12/2013), BBM lintas platform sendiri mendapat sambutan hangat dari para pengguna Android dan iOS. Sebagian pengguna pun sudah menganggap BBM sebagai aplikasi wajib di handsetnya.


Analist : jika benar ini sama saja dengan bunuh diri untuk blackberry, ya sudah jelas sejak berubahnya aplikasi blackberry messenger ke multiplatform banyak sekali yang hijrah ke android dan apple, jika itu benar-benar terjadi berarti blackberry sepertinya memang sudah angkat tangan mennyaingi pasar smartphone didunia, tapi itu hanya dipikiran saya, kita semua tidak ada yang tahu, kita tunggu saja mungkin ada rencanya tersembunyi dibalik ini semua.
Senin, 13 Januari 2014 | 0 komentar |

"Ponsel Android Itu Hanya Ponsel Buangan"

Persaingan antara Apple dan Google dalam bisnis perangkat bergerak makin kompetitif. Dari segi jumlah, ponsel Android masih mengungguli iPhone di sejumlah pasar.

Namun anehnya, meski mendominasi, penggunaan mobile Android untuk keperluan e-commerce masih kalah ketimbang iPhone.

Menurut data analitik IBM, pengguna iPhone tercatat lima kali lebih baik sebagai perangkat untuk belanja online selama sebulan, mulai dari Black Friday sampai Natal, dilansir Business Insider, Jumat 3 Januari 2013.

Selama masa liburan itu, pengguna iPhone tercatat mencetak belanja online dengan  angka 23 persen, atau rata-rata US$93,94 per order. Angka itu hampir dua kali lipat pengguna Android yang mencetak 4,6 persen, atau rata-rata US$48,10 per order. 

Fenomena ini mengundang tanda tanya, ada yang sebenarnya menjadi masalah Android? Padahal ponsel Android secara kualitas produk dan konten tak kalah dengan iPhone.

Menanggapi fenomena rendahnya adopsi Android untuk belanja online, Simon Khalaf, CEO Flurry, salah satu perusahaan periklanan mobile mengatakan, "ponsel Android tak lebih dari sekadar ponsel buangan."

"Teori kami, perangkat Android hanya penggantian ponsel fitur dan itu tak digunakan sebagai ponsel pintar, terutama di AS," kata Khalaf.

Keyakinan itu disampaikannya berdasarkan data perusahaan sama dengan fenomena yang ditunjukkan oleh data IBM.

Dia mengatakan, meski fitur Android sebenarnya dapat digunakan, pengguna Android malah menggunakan ponsel mereka untuk panggilan, menulis SMS, dan bermain Bejeweled.

"Jarang dari pengguna Android memanfaatkan aplikasi dan fitur untuk berbelanja," ujar Khalaf. (eh)


Sumber : http://teknologi.news.viva.co.id/news/read/470749--ponsel-android-itu-hanya-ponsel-buangan-

Analist : di sini di katakan "pengguna Android malah menggunakan ponsel mereka untuk panggilan, menulis SMS, dan bermain Bejeweled", hm.. mungkin bagi kalangan awam yang baru menggunakan android mereka memang memakai ponsel tersebut seperti ponsel lainnya, tapi bagaimana dengan yang lain? banyak orang yang mengoprek-oprek hpnya hingga sedemikian rupa, jika hanya untuk belanja, mungkin bisa di akses lewat ebay dan lazzada lewat android, jadi semua sama saja menurut saya.

| 0 komentar |

HTC One Dual SIM+: Elegan Berbalut Cover Alumunium Plus Slot MicroSD
Tanggal 19 November lalu, HTC telah memperkenalkan anggota baru keluarga HTC One di Indonesia. Salah satunya adalah HTC One Dual SIM+. Dilihat dari bentuknya, ponsel ini tak memiliki perbedaan yang mencolok dengan seri sebelumnya, HTC One yang sudah diperkenalkan lebih dulu oleh pabrikan asal Taiwan itu sejak awal tahun 2013.
Namun, jika Anda membedahnya langsung, HTC One Dual SIM+ telah dilengkapi dengan dua slot kartu SIM (Dual On Active CDMA + GSM/GSM + GSM) dan juga keberadaan slot microSD untuk menambah kapasitas penyimpanan hingga 64GB.
Perbedaan lainnya yang disematkan HTC ke dalam ponsel ini adalah penutup (case) bagian belakang yang bisa Anda buka. Jika penutup tersebut Anda buka, Anda bisa menemukan dua slot Sim Card dan sebuah microSD yang terpasang kokoh. Berbalut pelidung berbahan alumunium di bagian belakangnya, HTC One dual SIM+ ini terlihat lebih elegan.
Sayangya, HTC tidak menandai dengan jelas posisi slot Sim Card pertama dan kedua. Selain itu, apa saja fitur lainnya yang ada di dalam perangkat seharga Rp7.699.000 ini? Simak ulasan berikut ini.
Desain
HTC One Dual SIM+ memiliki dimensi yang tak jauh berbeda dengan HTC One, yaitu 137,81 x 68,28 x 10,41mm dan beratnya 143gram. Walaupun memiliki penutup bagian belakang yang bisa dibuka, ponsel ini tetap menggunakan baterai non-removable.  Layarnyanya memiliki bentang 4,68 inci dengan resolusi 1.080 x 1.920 ditambah dukungan realtime color engine agar tampilannya lebih jernih.

HTC One Dual SIM+ merupakan sebuah inovasi menarik HTC untuk memperluas pengguna HTC One versi sebelumnya. Ini juga sebagai jawaban HTC untuk memenuhi permintaan pasar yang menginginkan penggunaan dua Sim Card sekaligus dalam satu perangkat kelas premium.


| 0 komentar |

Canon EOS 700D: Masih Mirip dengan Pendahulunya
Genap satu tahun, sama di bulan Agustus, Canon akhirnya meluncurkan EOS 700D sebagai pengganti EOS 650D. Waktunya bisa dikatakan berbarengan dengan keluarnya seri EOS 100D, kamera DSLR milik Canon berukuran paling mungil.
Walaupun kamera bersensor CMOS dengan standar APS-C ini hanya masuk dalam jajaran entry level, EOS 700D punya posisi yang istimewa bagi Canon. Kamera yang menawarkan resolusi efektif 18 Megapixel tersebut merupakan penarik utama gerbong Canon sehingga bisa merajai pasar kamera DSLR hingga saat ini. Berawal dari feature videonya yang berkualitas tinggi sejak dari seri  EOS 550D, banyak pehobi pemula menjadikan kamera tersebut sebagai pondasi untuk menggeluti dunia fotografi maupun videografi.
Mengingat kesuksesan pendahulunya tersebut, espektasi besar tentunya selalu mengiringi kemunculan EOS 700D. Kira-kira, kejutan apa yang diberikan oleh Canon pada kamera tersebut?
Pada kenyataannya, perubahannya bisa dibilang sangat minim. Kalau disandingkan dengan pendahulunya, bodi dan konsep pengoperasian yang ditawarkan sangat mirip. Saat dibandingkan satu per satu, tombol, fungsi, dan posisinya bisa dikatakan tidak ada yang berubah. Dimensi bodinya pun sama, hanya bobotnya saja yang sedikit beda. Setelah dilakukan sedikit pengecekan, hanya di tombol putarnya saja yang mengalami perubahan. Di kamera yang baru, tombol putar yang terletak di bagian atas bodi dapat diputar hingga 3600. Hanya saja, tombol tersebut masih terasa sedikit kasar.
Setelah menengok ke dalamnya, tampilan serta struktur menunya pun tidak ada yang berubah. Hal ini membuat pengguna baru jadi lebih mudah beradaptasi. Feature touch screen yang mulai diperkenalkan di EOS 650D juga dipertahankan. Hanya saja, pemanfaatan feature touch screen-nya sedikit kurang efektif karena untuk memilih parameter yang diinginkan harus menekan tombol Quick Menu terlebih dahulu.

Kualitas Gambar    
Walaupun secara teknis tidak banyak mengalami perubahan, kehadiran EOS 700D tetap patut diperhitungkan karena Canon tetap menyertakan sejumlah feature menarik. Yang menjadi andalan utama tetaplah kombinasi antara sensor dan prosesornya. Penggunaan prosesor Digic 5, seperti yang dipakai di EOS 6D, berimbas besar pada kualitas gambarnya.
Hal pertama yang dilakukan untuk menganalisa kualitas gambarnya adalah memeriksa tingkat ketajamannya. Dalam hal ini, pengujian dilakukan dengan menggunakan lensa 17-40 mm f/4. Di bagian ini, terbukti EOS 700D mampu bekerja dengan cukup baik.
Saat gambar yang disimpan dalam format JPEG, diambil di siang hari dengan ISO 100 pada f/11, diperbesar dalam ukuran sebenarnya, gambar menunjukkan detail yang sedikit lembut. Hal tersebut mengindikasikan kalau filter noise pada EOS 700D bekerja cukup agresif. Untuk memaksimalkan ketajamannya, parameter sharpness di picture style-nya perlu sedikit dinaikkan. Dalam format RAW, ketajaman gambar yang dihasilkan lebih baik.
Sebagai kamera untuk pemula, yang cukup mengesankan dari EOS 700D adalah pengendalian noise-nya. Di ISO rendah bisa dikatakan tidak ditemukan noise sama sekali. Hal tersebut berlaku sampai di ISO 800. Sampai di ISO 3200, noise yang muncul masih terbilang rendah. Yang menyenangkan, gambar yang dimabil dengan ISO 6400 masih bisa digunakan. Tingkat noise-nya bisa ditekan kalau kita memotret di RAW.
Feature lain di EOS 700D yang cukup berpengaruh pada kualitas gambar adalah penggunaan 63 zone iFCL metering system. Teknologi yang mulai dikembangkan sejak dari lahirnya EOS 550D tersebut terbukti membuat kamera yang dilengkapi dengan 9 sensor AF-point tersebut mampu menghasilkan gambar dengan karakter warna yang natural dengan tingkat pencahayaan yang lebih akurat.
Dari sekian banyak faktor yang berkaitan dengan kualitas gambar, hal terakhir yang terasa kurang optimal dari kamera yang menawarkan sensitivitas sensor hingga ISO 25600 tersebut adalah dynamic range-nya. Walaupun sudah memanfaatkan feature Auto Lighting Optimizer dengan mengaturnya di level paling kuat, dynamic range yang dihasilkan terasa masih kurang luas. Contohnya, foto sunset yang diambil di pantai Ancol pada halaman sebelumnya.
Kecepatan Autofokus Kamera  
Poin yang tidak kalah penting untuk menentukan performa kamera adalah kecepatan autofokusnya. Walaupun terkesan tidak terlalu mewah, karena hanya menawarkan 9 sensor AF-point,  autofokus EOS 700D tidak boleh dipandang sebelah mata. Untuk ukuran kamera DSLR entry level, autofokusnya cepat dan akurat. Terutama untuk sensor AF point pusatnya. Saat dipakai dalam kondisi minim cahaya pun, autofokusnya masih mampu bekerja dengan cara yang sangat mengesankan.
Yang paling unik terjadi saat kita bekerja pada mode Live View. Sensor autofokus dengan sistem phase detection-nya akan bekerja dengan cara cermin refleknya akan menutup dalam sesaat, dan akan terbuka kembali setelah fokusnya ditemukan dan terkunci. Walaupun akan terjadi “blank image” dalam sesaat, cara tersebut terbilang cukup efektif untuk mendapatkan titik fokus secara lebih cepat dan akurat.
 Masih berkaitan dengan kecepatan, membaca spesifikasi teknis tidak bisa dilakukan secara mentah. Walaupun menawarkan kecepatan continuous drive hingga lima frame per detik, pada kenyataannya feature tersebut hanya optimal saat pengguna memotret dalam format JPEG. Di JPEG, dengan kartu memori yang memiliki write speed 35 MB per detik kita dapat memotret hingga 21 frame. Tetapi, saat menggunakan format RAW + JPEG, kecepatan mulai terganggu dari frame yang ke tiga.
Canon EOS 700D
Sensor/Resolusi: APS-C CMOS / 18 Megapixel
Prosesor Digic: 5
Format Gambar: RAW,  JPEG, Video (Format Motion JPEG)
Layar LCD: 3,0 inci, 1.040.000 Pixel
Kecepatan Shutter: 30-1/4000 detik
Sensitivitas ISO: 100 – 12800 (25600)
Mode Ekposur: Auto, Program, Aperture Priority, Shutter Priority, Manual
Titik Fokus: 9 titik sensor autofokus
Mode Drive: 5 frame per detik
Video: 1080P  30i
Media: SD/SDHC/SDXC
Dimensi: 133 x 100 x 79 mm
Bobot: 580 gram
Sumber : Chip

Analisis

Kamera DSLR entry level yang ideal untuk pemula. Dilengkapi dengan fasilitas perekam foto dan video yang baik, EOS 700D bisa menjadi jembatan bagi yang ingin menjajaki dunia fotografi maupun cinematografi. Untuk yang benar-benar serius di video, DSLR entry level ini sudah dilengkapi dengan input untuk mikrophone ekstrenal yang akan membuat rekaman video jadi lebih menarik.
| 0 komentar |

Olympus Ciptakan Lensa yang Menjanjikan Optik dan Materi dengan Kualitas Tertinggi
Seiring dengan keluarnya OM-D E-M1 yang diposisikan di kelas profesional, Olympus pun harus mengimbangi kamera baru tersebut dengan lensa berkualitas tinggi. Dengan alasan tersebut, Olympus pun menciptakan lensa dengan kelas Profesional. Lensa yang menjanjikan optik dan materi dengan kualitas paling tinggi. Lensa baru dengan label Pro tersebut adalah M. Zuiko Digital ED 12-40 mm f/2.8 Pro.
Dengan multiple factor sebesar 2x yang ada di OM-D E-M1, focal length lensa Zuiko 12-40 mm f/2.8 Pro tersebut ekuivalen dengan lensa 24-80 mm. Cakupan serta kecepatannya identik dengan lensa zoom premium pada umumnya. Untuk melengkapi  materi bodinya yang solid dan kokoh, Olympus memasang feature  anti debu, air, dan suhu rendah di lensa tersebut. Untuk mempermudah pengaturan fokus ada ring di bagian depan yang dapat dipakai untuk mengatur fokus manual atau auto fokus hanya dengan cara menggesernya.
Untuk mempermudah pengaturan parameter kamera, di lensa berdiameter filter 62 mm tersebut dilengkapi tombol L. Fn. Tombol tersebut berfungsi untuk mengaktifkan pilihan parameter penting kamera. Sayangnya, saat pengujian fungsi tombol L. Fn-nya belum bekerja secara sempurna karena OM-D E-M1 yang diuji masih versi Beta.
Untuk mendapatkan gambar berkualitas tinggi, lensa M. Zuiko 12-40 mm f/2.8 Pro menggunakan elemen optik bermaterikan gelas berteknologi Extra Low Dispersion (ED) dan juga  elemen optik aspherical. Elemen gelas ED secara umum membuat lensa baru tersebut menghasilkan warna yang akurat dan natural. Namun, saat dipakai dalam situasi menentang arah cahaya terkadang flare yang muncul masih cukup kuat.
Yang patut diapresiasi dari gelas aspherical adalah distorsinya. Di focal length paling lebar, distorsi barrel yang muncul terbilang minim. Padahal, pemotretan dilakukan dalam jarak sekitar 30 cm mendekati jarak fokus terdekatnya.
Selama menggunakan dalam pengujian di lapangan, performa paling mengesankan dari lensa M. Zuiko Digital ED 12-40 mm f/2.8 Pro ada pada ketajamannya. Di posisi wide angle maupun tele, ketajaman hasilnya cukup memuaskan. Gambar yang diambil dari posisi wide open, dengan aperture paling lebar, ketajamannya masih cukup baik. Penurunan ketajaman di bagian pinggirnya terbilang minim. Namun, saat dipakai di f/5.6 dan f/11 hasilnya nyaris sempurna.
Tidak hanya bekerja baik di kamera milik Olympus, saat coba dipakai di Lumix GX7 milik Panasonic yang juga menggunakan sistem Micro Four Third hasilnya pun tidak kalah mengesankan. Detail gambar yang dihasilkan dari posisi wide open memiliki ketajaman yang sangat tinggi.
M. Zuiko Digital ED 12-40 mm 
F2.8 Pro
Mount:  Micro Four Thirds
Focal length: 12-40 mm
Aperture: f/2.8 – f/22
Optik: 14 Elemen/ 9 Grup
Multiple factor: 2x
Bilah aperture: 7 bilah
Fokus terdekat: 20 cm
Filter: 62 mm
Dimensi: 84 x 70 mm
Sumber : Chip
Analisis
Dari sekian banyak pilihan yang sudah ada, Olympus menambah satu lagi jajaran lensa dengan mount Micro Four Thirds yang diberi label profesional.


Canon EOS 700
| 0 komentar |