Canon EOS 700D: Masih Mirip dengan
Pendahulunya
Genap satu tahun, sama di bulan
Agustus, Canon akhirnya meluncurkan EOS 700D sebagai pengganti EOS 650D.
Waktunya bisa dikatakan berbarengan dengan keluarnya seri EOS 100D, kamera DSLR
milik Canon berukuran paling mungil.
Walaupun kamera bersensor CMOS dengan
standar APS-C ini hanya masuk dalam jajaran entry level, EOS 700D punya posisi
yang istimewa bagi Canon. Kamera yang menawarkan resolusi efektif 18 Megapixel
tersebut merupakan penarik utama gerbong Canon sehingga bisa merajai pasar
kamera DSLR hingga saat ini. Berawal dari feature videonya yang berkualitas
tinggi sejak dari seri EOS 550D, banyak
pehobi pemula menjadikan kamera tersebut sebagai pondasi untuk menggeluti dunia
fotografi maupun videografi.
Mengingat kesuksesan pendahulunya
tersebut, espektasi besar tentunya selalu mengiringi kemunculan EOS 700D.
Kira-kira, kejutan apa yang diberikan oleh Canon pada kamera tersebut?
Pada kenyataannya, perubahannya bisa
dibilang sangat minim. Kalau disandingkan dengan pendahulunya, bodi dan konsep
pengoperasian yang ditawarkan sangat mirip. Saat dibandingkan satu per satu,
tombol, fungsi, dan posisinya bisa dikatakan tidak ada yang berubah. Dimensi
bodinya pun sama, hanya bobotnya saja yang sedikit beda. Setelah dilakukan
sedikit pengecekan, hanya di tombol putarnya saja yang mengalami perubahan. Di
kamera yang baru, tombol putar yang terletak di bagian atas bodi dapat diputar
hingga 3600. Hanya saja, tombol tersebut masih terasa sedikit kasar.
Setelah menengok ke dalamnya,
tampilan serta struktur menunya pun tidak ada yang berubah. Hal ini membuat
pengguna baru jadi lebih mudah beradaptasi. Feature touch screen yang mulai
diperkenalkan di EOS 650D juga dipertahankan. Hanya saja, pemanfaatan feature
touch screen-nya sedikit kurang efektif karena untuk memilih parameter yang
diinginkan harus menekan tombol Quick Menu terlebih dahulu.
Kualitas Gambar
Walaupun secara teknis tidak banyak
mengalami perubahan, kehadiran EOS 700D tetap patut diperhitungkan karena Canon
tetap menyertakan sejumlah feature menarik. Yang menjadi andalan utama tetaplah
kombinasi antara sensor dan prosesornya. Penggunaan prosesor Digic 5, seperti
yang dipakai di EOS 6D, berimbas besar pada kualitas gambarnya.
Hal pertama yang dilakukan untuk
menganalisa kualitas gambarnya adalah memeriksa tingkat ketajamannya. Dalam hal
ini, pengujian dilakukan dengan menggunakan lensa 17-40 mm f/4. Di bagian ini,
terbukti EOS 700D mampu bekerja dengan cukup baik.
Saat gambar yang disimpan dalam
format JPEG, diambil di siang hari dengan ISO 100 pada f/11, diperbesar dalam
ukuran sebenarnya, gambar menunjukkan detail yang sedikit lembut. Hal tersebut
mengindikasikan kalau filter noise pada EOS 700D bekerja cukup agresif. Untuk
memaksimalkan ketajamannya, parameter sharpness di picture style-nya perlu
sedikit dinaikkan. Dalam format RAW, ketajaman gambar yang dihasilkan lebih
baik.
Sebagai kamera untuk pemula, yang
cukup mengesankan dari EOS 700D adalah pengendalian noise-nya. Di ISO rendah
bisa dikatakan tidak ditemukan noise sama sekali. Hal tersebut berlaku sampai
di ISO 800. Sampai di ISO 3200, noise yang muncul masih terbilang rendah. Yang
menyenangkan, gambar yang dimabil dengan ISO 6400 masih bisa digunakan. Tingkat
noise-nya bisa ditekan kalau kita memotret di RAW.
Feature lain di EOS 700D yang cukup
berpengaruh pada kualitas gambar adalah penggunaan 63 zone iFCL metering
system. Teknologi yang mulai dikembangkan sejak dari lahirnya EOS 550D tersebut
terbukti membuat kamera yang dilengkapi dengan 9 sensor AF-point tersebut mampu
menghasilkan gambar dengan karakter warna yang natural dengan tingkat
pencahayaan yang lebih akurat.
Dari sekian banyak faktor yang
berkaitan dengan kualitas gambar, hal terakhir yang terasa kurang optimal dari
kamera yang menawarkan sensitivitas sensor hingga ISO 25600 tersebut adalah
dynamic range-nya. Walaupun sudah memanfaatkan feature Auto Lighting Optimizer
dengan mengaturnya di level paling kuat, dynamic range yang dihasilkan terasa
masih kurang luas. Contohnya, foto sunset yang diambil di pantai Ancol pada
halaman sebelumnya.
Kecepatan Autofokus Kamera
Poin yang tidak kalah penting untuk
menentukan performa kamera adalah kecepatan autofokusnya. Walaupun terkesan
tidak terlalu mewah, karena hanya menawarkan 9 sensor AF-point, autofokus EOS 700D tidak boleh dipandang
sebelah mata. Untuk ukuran kamera DSLR entry level, autofokusnya cepat dan
akurat. Terutama untuk sensor AF point pusatnya. Saat dipakai dalam kondisi
minim cahaya pun, autofokusnya masih mampu bekerja dengan cara yang sangat
mengesankan.
Yang paling unik terjadi saat kita
bekerja pada mode Live View. Sensor autofokus dengan sistem phase detection-nya
akan bekerja dengan cara cermin refleknya akan menutup dalam sesaat, dan akan
terbuka kembali setelah fokusnya ditemukan dan terkunci. Walaupun akan terjadi
“blank image” dalam sesaat, cara tersebut terbilang cukup efektif untuk mendapatkan
titik fokus secara lebih cepat dan akurat.
Masih berkaitan dengan kecepatan, membaca
spesifikasi teknis tidak bisa dilakukan secara mentah. Walaupun menawarkan
kecepatan continuous drive hingga lima frame per detik, pada kenyataannya
feature tersebut hanya optimal saat pengguna memotret dalam format JPEG. Di
JPEG, dengan kartu memori yang memiliki write speed 35 MB per detik kita dapat
memotret hingga 21 frame. Tetapi, saat menggunakan format RAW + JPEG, kecepatan
mulai terganggu dari frame yang ke tiga.
Canon EOS 700D
Sensor/Resolusi: APS-C CMOS / 18
Megapixel
Prosesor Digic: 5
Format Gambar: RAW, JPEG, Video (Format Motion JPEG)
Layar LCD: 3,0 inci, 1.040.000 Pixel
Kecepatan Shutter: 30-1/4000 detik
Sensitivitas ISO: 100 – 12800 (25600)
Mode Ekposur: Auto, Program, Aperture
Priority, Shutter Priority, Manual
Titik Fokus: 9 titik sensor autofokus
Mode Drive: 5 frame per detik
Video: 1080P 30i
Media: SD/SDHC/SDXC
Dimensi: 133 x 100 x 79 mm
Bobot: 580 gram
Sumber : Chip
Analisis
Kamera DSLR entry level yang ideal
untuk pemula. Dilengkapi dengan fasilitas perekam foto dan video yang baik, EOS
700D bisa menjadi jembatan bagi yang ingin menjajaki dunia fotografi maupun
cinematografi. Untuk yang benar-benar serius di video, DSLR entry level ini sudah
dilengkapi dengan input untuk mikrophone ekstrenal yang akan membuat rekaman
video jadi lebih menarik.


0 komentar: